Monday, July 21, 2008

HIDUP = 3 HARI + 2 NAFAS

HIDUP KITA CUMA DI DALAM 3 HARI:

Semalam ~ Sudah menjadi sejarah.

Hari Ini ~ Apa yang sedang kita lakukan.

Esok ~ Hari yang belum pasti.

Hisablah hari pertama semoga hari yang kedua kita lebih baik kerana mungkin ajal kita pada hari yang kedua.

HIDUP CUMA DALAM 2 NAFAS:

Nafas Naik.

Nafas Turun.

Hargailah Nafas yang naik kerana udara yang disedut adalah pemberian Allah secara percuma dan carilah keredhaan~Nya dalam menggunakannya.

Bertaubatlah dalam Nafas yang kedua kerana mungkin itu nafas yang terakhir keluar dari tubuh bersama nyawa dan roh untuk meninggalkan dunia yang fana ini.

HIDUP CUMA ADA 2 PILIHAN :

Hidup dalam keredhaan Allah.

Hidup dalam kemurkaan Allah.

HIDUP YANG ABADI CUMA ADA 2 TEMPAT :

Kekal di dalam neraka.

Kekal di dalam syurga.

Ingatlah kecelakaan neraka itu amat mengerikan dan kita hanya diyakinkan oleh keyakinan kita kepada rukun IMAN.

Rukun Iman itu pula ada 6 dan apabila hilang salah satu daripadanya maka hilanglah ia.

Kelazatan dan kesejahteraan syurga itu maha HEBAT. Tidak terduga oleh fikiran kita dan untuk mendapatkannya terjemahkan rukun ISLAM yang 5 itu

dan puncaknya adalah SOLAT ...

Amat sukar untuk dipercayai bagi yang ingin ke SYURGA tetapi tidak bersolat,

umpama seorang yang mahu menaiki kapal terbang, tetapi tidak mempunyai boarding pass.

Dan mereka yang sengaja melalaikan solat, umpama mengeposkan sepucuk surat tanpa melekatkan setem ... apabila ditanya bagaimana surat itu akan sampai

pada penerimanya ... lalu dia pun berkata setemnya akan dihantar kemudian.

Ada 2 penyelesaian dalam kes ini :

Dia mungkin didenda ... atau, suratnya masuk tong sampah.

Oleh itu, tidakkah kita semestinya bersyukur atas segala nikmat yang Allah kurniakan kepada kita ...

Sekurang-kurangnya Allah telah memberi udara secara percuma untuk kita berzikir mengingati~Nya setiap detik dan ketika, hinggalah kita kembali kepada Allah dalam keadaan jiwa yang tenang ... lalu masuk ke dalam syurga dalam keadaan kita redha dan Allah meredhai.

Semoga kita semua berbahagia + sejahtera senantiasa ... di dunia jua di akhirat kelak serta di dalam rahmat Allah s.w.t.

Bagi yang ingin menyampai/disampai/tersampai...bersabarlah dlm penyampaian... kerana sesungguhnya manusia sentiasa lalai dengan pelbagai perkara; marah, lupa, bodoh, ego etc. Lakukanlah penyampaian dengan sabar dan penuh hikmah. Selamat berjuang

Tuesday, July 01, 2008

Bila diri disayangi=penjelasan

Maksud tersirat lagu ini yg saya faham.

Bila diri disayangi (Ukays)

Terdengar bisikan mesra >>>2 Kalimah syahadah
Kalimah keramat bermantera
Bermulanya siang, berakhir malam pun
Tak akan ku jemu menyebut namamu ALLAH

Tiada batasan waktu, Tiada tempat mu tertentu >> Sifat Allah yg Tidak ditentukan
Di gunung di lembah, Di darat di air tempat bgNYA. BAhkan meliputi
alam sekaliannya 'ahdun samadun'

Siapa pun hamba, keikhlasan doa >>Bismillahirrahmanirrahim
Keagungan ksih, merubah takdir >>Dgn bismillah... dpt merubah takdir

>>



Bila kusedari diri disayangi
Langkah kaki ini semakin berani
Bila terkeliru ku ucap namamu >> ALLAH
Terasa diriku kembali dipandu

Kau yang pertama, tiada akhirnya >>Sifat Allah yg tidak berawal dan tidak berakhir
Aku dlm kegelapan, Engkaulah cahaya
Izinkanlah aku, menumpang di sini
Di bawah naungan kasih dan sayangmu
Ku berserah diri.. >> tawakal


Sekadar menjawap pertanyaan dan salah faham kawan2. Ade ke kate saye jiwang karat.. huhu..
Masih dlm proses penghayatan dan pengkajian. Jadi tak banyak yg dapat dikongsikan.

Thursday, February 14, 2008

Kelebihan Ilmu

Ini suatu fasal pada menyatakan ringkasan Bab menuntut ilmu, adapun menuntut ilmu ini adalah Fardlu ‘Ain bagi tiap-tiap orang yang mukalaf laki-laki maupun perempuan.

Kelebihan Ilmu:

Inilah dalil betapa kemuliaan, kelebihan, kejelasan dan ketinggian derajat orang-orang yang berilmu.

FirmanNya: “Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya tiada Tuhan selain Dia. Dan Malaikat-malaikat dan orang-orang berilmu (menyaksikan) yang tegak dengan keadilan”, QS: Ali Imran 18.

Dan lagi: “Ditinggikan Allah derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang dianugerahi ilmu”, QS: Al Mujaadalah 11.

Dan lagi: “Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang yang beraqalah yang dapat memahaminya”, QS: Az Zumar 9.

Sabda Rasulullah SAW: “Kelebihan orang berilmu dari orang ahli ibadah (orang yang banyak ibadahnya) seperti kelebihanku dari orang yang paling rendah dari sahabatku”, HR: At-Tirmidzi dari Abi Amamah (Katanya: Hadits Hasan Shahih)


Keutamaan Menuntut Ilmu:

FirmanNya: “Mestinya tidak pergi (Berperang) satu rombongan dari tiap2 golongan itu untuk memperdalam (ilmu) perkara agama”, QS: At Taubah 122.

Dan lagi: “Bertanyalah kepada ahli zikr (berilmu), jika engkau tidak mengetahui”, QS: An Nahl 43.

Sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa menjalani suatu jalan untuk menuntut ilmu (Suluk & Thariqah), maka dianugerahi Allah kepadanya jalan ke Jannah”, HR: Muslim dari Abu Hurairah.

Dan lagi: “Sesungguhnya engkau berjalan pergi menuntut suatu bab ilmu adalah lebih baik daripada engkau melakukan shalat seratus raka’at”, HR: Ibnu Abdul-Birri dari Abu Dzar.

Dan lagi: “Suatu bab dari ilmu yang dituntut seseorang adalah lebih baik baginya dari dunia dan seisinya”, HR: Ibnu Hibban dan Ibnu Abdul-Birri dari Al-Hasan Al-Bashari.

Menuntut Ilmu Yang Fardlu ‘Ain:

Bermula ilmu yang fardlu ‘ain menuntutnya ialah ilmu yang membawanya pada keselamatan dunia dan akhirat. Adapun yang membawanya pada keselamatan itu adalah yang sebagaimana ada pada Rukun Islam, maka amalan itulah yang wajib dipelajari dan difahami dengan sebenar faham (Kaffah) meliputi zahir dan bathin.

Sabda Nabi SAW: “Orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan -Laa ilaha ilallah-, dengan sebenar ikhlas dari hati sanubari dan seluruh jiwanya (dikarenakan faham/berilmu)”, HR: Bukhari dari Abu Hurairah.

Dan lagi: “Hak Allah atas hambaNya ialah supaya mereka menyembah Allah dan tiada mempersekutukanNya dengan sesuatu yang lain, Hak hamba atas Allah ‘Azza wa Jalla ialah tidak menyiksa orang yang tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu yang lain”, HR: Muslim dari Mu’adz bin Jabal.

Dan lagi: “Amal yang paling utama adalah Iman Kepada Allah, setelah itu Jihad fiii sabilillah dan setelah itu Haji yang mabrur”, HR: Muslim dari Abu Hurairah.

Maka ilmu yang utama adalah yang membahas pemahaman kepada mengEsakan Allah baik pada Dzat, Sifat ataupun Af’alNya hingga ia yakin dan tiada syak waham atau dzon.

Adapun Ilmu yang membahas pemahaman kepada mengEsakan Allah baik pada Dzat, Sifat ataupun Af’alNya itu adalah Tauhid namanya, disebut juga dengan ilmu Kalam, Ilmu Sifat, Ilmu ‘Akaidul Iman dan Ilmu Usuluddin.

Cabang Ilmu Tauhid yang membahas kelakuan zahir (Syari’at) dari orang yang paling suci hatinya dari syirik (Rasulullah SAW) dinamakan Ilmu Fiqih.

Furuq-furuq dari Ilmu Fiqih lengkap dengan istilah-istilah yang baharu ada sepeninggal Rasulullah SAW dengan Ijtihad ahli ilmu dari Ijma’ dan Qiyas para Sahabat Nabi SAW, para Tabi’iin, Tabi’i-Ittabi’iin, hingga para Ulama Al Mutta-akhirin dikarenakan perkembangan Islam yang meluas bukan hanya kepada orang arab sahaja, tetapi menyebar keseluruh muka bumi ini, misalnya Ilmu Nahwu, Istilah-istilah dalam ilmu Hadits dan lain-lain.

Cabang Ilmu Tauhid yang mempelajari kelakuan bathin (Hakikat/Adab) dari orang yang paling suci dari syirik (Rasulullah SAW) dinamakan Ilmu Tassawuf.

Istilah “Tassawuf” diambil dari Ijtihad ahli ilmu dari Ijma para Sahabat Nabi SAW dikarenakan kebanyakan yang bermula mendapat Ilmu-ilmu Khusus tentang kelakuan hati (hakikat) selain Ahli bait dikalangan Sahabat Nabi SAW adalah kebanyakan Kaum Suffah, maka diambilah kata-kata Kaum Sufi dari Kaum “Suffah” ini terhadap orang yang mengamalkan ilmu ini.

Sunnah-sunnah mengenai ilmu khas ini hanya disampaikan ketika berhadapan langsung sendiri-sendiri kehadapan Rasulullah SAW, dan lazimnya Rasulullah melarang mereka menyampaikan Sunnah-sunnah khusus itu kepada sahabat yang lainnya, karena dikhawatirkan mereka menjadi hanya berpangku tangan sahaja dikarenakan belum sampai aqal mereka untuk menerima ilmu ini.

Rasulullah bahkan pernah menyuruh MENGHAPUS kepada siapa yang menuliskan kata-kata beliau selain Al-Qur'aan, sebab dikhawatirkan yang membaca khabar salah menafsirkan dikarenakan banyak perkataan Beliau SAW yang merupakan tamsil-tamsil, dan hanya orang yang ahli ilmu yang memahaminya. Namun diperbolehkan menyampaikannya dengan syarat yang menyampaikan memahami hikmah dari perkataan Beliau SAW dan menyampaikannya setakat Aqal yang mendengarnya, apabila tidak memenuhi syarat ini, maka sama dengan mendustakan perkataan Rasulullah dan memilih tempatnya di neraka.

Abu Hurairah tertegah menyampaikan Sunnah-sunnah Khusus yang mengandung pesan-pesan tentang ilmu HAKIKAT ini, bahkan setengah dari Sunnah-sunnah yang beliau dapatkan langsung dari Rasulullah SAW diharamkan oleh Amirul Mukminin untuk disampaikan, jika disampaikan juga maka beliau dipenggal oleh Amirul mukminin.

Maka Ijtihad nama Ilmu ini Tassawuf, dan yang mengamalkannya disebut Sufi, seperti dalam furuq ilmu Feqah terdapat istilah-istilah baru seperti ilmu Nahwu dll, istilah Tassawuf diambil dengan IJTIHAD para Ulama warisatul Anbiya.

Adapun istilah TASSAWUF tidak ada dalam Al-Qur'an atau Hadits, sebab pada zaman Rasulullah tidak ada pemisahan antara ilmu khusus dan ilmu umum, akan tetapi setelah banyak kaum muslimin yang meninggalkan mengamalkan kesucian hati, dan lebih cenderung pada mengambil makna zahir ayat, bermegahan dengan ayat-ayat serta serampangan menyampaikan ayat-ayat dengan ketiada fahaman terhadap hakikat hikmah yang terkandung pada ayat-ayat itu (tidak menembusi kerongkongan) dan iman mereka tanggal dari hati mereka ibarat panah yang terlepas dari busurnya, maka diIjtihadkanlah ilmu Tassawuf yang khusus membahas kelakuan hati (Hakikat) ini untuk menjadi Furuq Ilmu Tauhid yang sama pentingnya dengan Ilmu Fiqih untuk dipelajari, namun mempelajarinya tidak seperti mempelajari ilmu Fiqih, terdapat adab-adab yang mengikat sebagaimana adab para Sahabat berguru pada Seikh mereka, yakni Rasulullah SAW.

Setelah yang terakhir disebutkan tadi maka lengkaplah sudah dalil bagi ilmu yang mempelajari ‘itikad, kelakuan zahir dan kelakuan bathin Rasulullah SAW yang dituliskan dalam kitab-kitab mereka untuk dipelajari oleh Muslim pada zaman sekarang ini.

Adapun mengenai adab-adab mempelajarinya insya Allah bersambung esok atau lusa.

Wassalaam.

Tuesday, February 12, 2008

Pelajari “Ilmu Mengenal Diri”

Pelajari “Ilmu Mengenal Diri”
Writing by coachamar on Sunday, 10 of February , 2008 at 12:41 pm

Mengenal diri adalah ilmu yang sangat penting di dalam kehidupan manusia seharian. Mengenal diri bukan setakat melihat diri anda di hadapan cermin dan berkata..”inilah aku”. Mengenal diri adalah mengetahui diri anda sendiri baik yang fizikal mahupun diri anda yang ”ghaib”.

Manusia zaman kini makin lupa ilmu ini. Mereka bangga melihat dan menilai dunia fizikal mereka dan melupakan dunia metafizika mereka. Akibatnya, banyak masalah dan cabaran yang kita sedang harungi dan lalui tidak berjaya diatasi dan difahami akibat tidak mengenali diri kita sendiri.

Adakah anda tahu bagaimana anda bertingkahlaku begini? Adalah anda tahu kenapa anda bertabiat begitu?Kenapakah anda kerap kali mengalami kegagalan? Dan pelbagai lagi persoalan yang mampu anda sendiri huraikan jika anda mengenali diri anda yang sebenarnya?

Mengenali diri anda menyebabkan anda mengetahui ilmu minda, ilmu aura, ilmu chakra dan pelbagai lagi rahsia-rahsia diri anda yang akan memudahkan anda mengendalikan perjalanan kehidupan anda setiap hari di dunia ini. DAN yang PENTING, anda semakin menghargai dan mensyukuri anugerah ALLAH SWT kepada kita sebagi mahkluk yang hebat.

Memang manusia kerap lupa tentang kemampuan yang mereka miliki dan tidak mahu memahami potensi diri manusia sendiri. Seperti manusia yang lupa mengenali dan memahami alam dan hukum yang menguasai alam. Malahan manusia sentiasa RAKUS dan BUAS memusnahkan alam hingga alam sendiri yang “mendera” manusia. Kita yang tidak mengenali diri kita sendiri akan “menderita” dihempit kesulitan akibat kurangnya kita tentang diri kita sendiri.

AMAR MAHMOOD

Tuesday, February 05, 2008

GURINDAM 7.

GURINDAM 7.

Awal Bismillah kata dibuka
Akhiran Selawat dan Salam pada KekasihNya, kekasih ku jua
Tunduk insan pada Pencipta Yang Maha Esa
bukan mendongak, bukan mendabik dada
kerna kita tiada apa
kerna kita lemah belaka
tiada daya upaya melainkan atas perintahNya.

Amarah tingkat pertama
bukan bermakna yang lebih mulia
pada hati yang tidak bermata
pada insan yang nampak tapi buta
condong perdu pohon iman tidak bermaya
selangkah terjerumus ke girang neraka
Awas, syaitan itu tak kenal leka.

Lawwamah masih lemah
nafsu diikat pada tingkat yang paling rendah
sesekali menjenguk si Amarah
rabun hati menolak salam yang penuh darah
terang di ufuk hendak dicapai tanpa arah
Ya Allah; tangan ditadah
Mohon bantuan ke tangga Mulhamah

Aqli, Kauli dan Qalbi
terdetik dek akal, haqqul yakin lafaz dizahir, bertasdiq di hati
rosak terbalik istana iblis di jantung hati, Mulhamah meniti
akal iman diberi memerintah nafsu nurani
sungguhpun begitu tabah menanti
dugaan datang cuba mematahi
hakikat hidup dan juga mati, sering ditanya silih berganti

Mutmainah tangga ke empat
sedikit berlajar banyak yang dapat
hidup mukmin tidak merempat
rayau roh ke serata peringkat
Allah Azzawajalla kenal hampir rapat
musibah datang tidak mudharat
kenal diri di dunia fana', berbahagia berlipat

Ilmu dibekal, ilmu disebar
berkat usaha hati berani yang sabar
Radhiah dijangkau bak umpama jala yang lebar
Tawaduk mukmin pada Zuq yang dasar
dunia fana' seraya tidak disedar
bagai terbang bersayap, bertebar
wajah mengadap pada Kekasih, AllahuAkbar

Kun kata Allah, fayakun kata Mohd, rabbukum kata Jibrail
Mardiah digantung pada hati yang tidak berkail
Nikmatnya hidup walaupun kemarau tidak berair
Hijab dibuka pada dunia yang hilir
Kenal mengenal tiada berdalil
Pada bathin mahupun pada zahir
Rindu dendam pada Mu Ya Allah RabulJalil

1) Kamaliah di tangga yang amat mulia
tempat duduknya para aulia
Insan Kamil menjadi empunya
Tergenang airmata tandanya bahagia
dalam nikmat perjalanan tiada domba
Cinta sejati lekat setia
Afaal AllahuRabbi pada kita

2) sungguhpun kepalang nikmat tidak berkolam
tidaklah perlu kita kekal bermalam
Balik kita pada Mutmainah jgn tenggelam
Akhirat dijunjung dunia diselam
janganlah ditinggal dalam kelam
Syurga kelak memberi salam
Hidup bahagia di Darussalam.

Salammmm......

Thursday, January 17, 2008

Cerama

SERBAN ABANG
oleh Alexanderwathern
http://myalexanderwathern.freephpnuke.org/gate.html?name=News&new_topic=7

Apakah “cerama”? Cerama ialah gabungan antara “cerpen” dengan “drama”. Alex mengadunkan keduanya kerana merasakan kesannya ke atas pembaca adalah lebih kuat berbanding cerpen atau drama, lebih-lebih lagi dalam menyalurkan maklumat tentang agama Islam. Ambillah peluang ini untuk menjadi antara orang terawal mencuba cerama.

WATAK & PERWATAKAN

HAFIZ - Anak muda berusia 27 tahun. Lulusan agama dari sebuah universiti Timur Tengah. Kini bertugas sebagai seorang guru agama di sebuah sekolah menengah.

ISKANDAR- Abang kepada Hafiz. Berusia 33 tahun.Lulusan agama dari sebuah universiti di Indonesia. Setelah habis pengajiannya, memilih untuk menjadi seorang petani moden. Namun ada juga memberikan kuliah di beberapa masjid dan surau berhampiran.


LATAR TEMPAT

Kampung Sungai Lilin. Suasana desa masih terasa di kampung ini walaupun perubahan agak pesat berlaku.


LATAR MASA
Cuti sempena Tahun Baru Cina pada tahun 2007


LATAR MASYARAKAT
Masyarakat Melayu pinggir bandar, berpendidikan dan bermaklumat.



Cerama: SERBAN ABANG (bah. 1)
by alexanderwathern http://myalexanderwathern.freephpnuke.org/gate.html?name=News&new_topic=7


Hafiz dan abangnya baru selesai mandi di sungai. Mereka berjalan pulang beriringan. Begitulah mereka apabila sesekali berjumpa. Ketika itu lebih kurang pukul 6.00 petang.
HAFIZ :
Kenapa abang pakai serban, bang? (Hafiz menduga abangnya yang selalu memakai serban. Bagi Hafiz, serban bukanlah satu sunnah dan tidak sunat memakainya. Sebelum ini Hafiz tidak berani mengutarakan isu ini kerana takut kalau-kalau abangnya tersinggung)
ISKANDAR
(Menoleh sebentar ke arah adiknya, memberikan sedikit senyuman… lalu menoleh semula ke arah depan)
Sajalah, abang nak ikut Nabi.
HAFIZ
Tapi kan… Nabi bukan sentiasa berserban. (Hafiz mula membuka hujah sambil merenung wajah Iskandar dari sisi sebelah kiri)
ISKANDAR
(Tersenyum lagi, lebar sedikit daripada tadi)
Itulah yang abang ikut. (Ringkas saja jawabnya)
HAFIZ
(Berasa pelik dengan jawapan tersebut. Keningnya berkerut sedikit)
Macam mana tu? Tak faham saya.

ISKANDAR
Nabi Muhammad ni… kadang-kadang dia pakai serban dan kopiah. Kadang-kadang dia pakai kopiah saja. Adakalanya pulak dia pakai kain serban sahaja. Ada waktu dia tak tutup kepala dengan apa-apa. Ada yang dia dia tutup dengan kain…
Jadi… betullah baginda tidak sentiasa berserban. Dan yang tidak sentiasa berserban itulah yang kita ikut. (Satu-satu dan lambat-lambat penjelasan Iskandar)
(Memang betulpun. Ketika berkebun, Iskandar memakai topi yang biasa dipakai oleh kaki pancing. Ketika “jogging” di s ebelah petang, kepalanya tidak bertutup. Ke surau atau ke majlis-majlis, biasanya berserban ataupun berkopiah sahaja. Di gelanggang silat, kepalanya diikat kain hitam. Di dalam tandas, kepalanya bertutup kain tuala)


HAFIZ
(Tergamam mendengar jawapan Iskandar. Belum pernah dia terjumpa alasan seperti itu walaupun sudah beberapa orang rakan sepengajiannya yang berserban di”pancung”nya sebelum ini. Beberapa orang tua kampung itu seperti Ustaz Uthman imam, Tok Aki Raof yang berusia 75 tahun dan Cikgu Zakaria Tabligh pun pernah di”pancung”nya tempoh hari. Teraba-raba mereka mencari jawapan)
(Dalam keadaan begitu, Hafiz cuba untuk berlagak biasa. Dicarinya ruang yang lain)
Bagi abanglah, adakah serban tu satu sunnah?

bersambung...



Cerama: SERBAN ABANG (bah. 2)
HAFIZ

(Tergamam mendengar jawapan Iskandar. Belum pernah dia terjumpa alasan seperti itu walaupun sudah beberapa orang rakan sepengajiannya yang berserban di”pancung”nya sebelum ini. Beberapa orang tua kampung itu seperti Ustaz Uthman imam, Tok Aki Raof yang berusia 75 tahun dan Cikgu Zakaria Tabligh pun pernah di”pancung”nya tempoh hari. Teraba-raba mereka mencari jawapan)
HAFIZ
(Tergamam mendengar jawapan Iskandar. Belum pernah dia terjumpa alasan seperti itu walaupun sudah beberapa orang rakan sepengajiannya yang berserban di”pancung”nya sebelum ini. Beberapa orang tua kampung itu seperti Ustaz Uthman imam, Tok Aki Raof yang berusia 75 tahun dan Cikgu Zakaria Tabligh pun pernah di”pancung”nya tempoh hari. Teraba-raba mereka mencari jawapan)
(Dalam keadaan begitu, Hafiz cuba untuk berlagak biasa. Dicarinya ruang yang lain)
Bagi abanglah, adakah serban tu satu sunnah?

ISKANDAR
(Sebenarnya faham permainan hati adiknya ketika itu)
Ada ulama yang kata sunnah, dan ada ulama yang kata bukan sunnah. Ulama yang kata sunnah pun banyak, yang kata bukan sunnah pun banyak. Apabila sebelah sana berkumpul banyak ulama yang soleh dan di sebelah satu lagi pun banyak ulama yang soleh, maka ia jadi perkara khilaf. Adab dalam berkhilaf… kedua-dua pihak kena saling hormat-menghormati keputusan lawan masing-masing, kena saling meraikan. Kan begitu?
HAFIZ
(Terdiam… kemudian baru mengangguk-angguk kecil. Tapi anggukan itu bukanlah tanda dia bersetuju penuh, cuma dirasakannya ketika itu, bahasa badan anggukan itulah yang sesuai sambil mindanya ligat berfikir)
Tapi kan… macam dalam kes wanita menjadi imam kepada lelaki- ada ulama besar zaman dahulu yang kata boleh. Kalau ini kita anggap khilaf, maka bolehlah orang perempuan jadi imam! Betulkah boleh?

Mereka berpandangan, lalu kedua-duanya tertawa kecil
ISKANDAR
Adakah bilangan ulama yang kata boleh itu setanding dengan bilangan ulama yang kata tak boleh? ………
Jawapannya- tidak. 2-3 orang saja yang kata boleh berbanding ratusan atau ribuan ulama muktabar yang kata tak boleh. Jadi situsi ini tidaklah boleh dikatakan khilaf, tetapi apa yang difatwakan oleh 2-3 orang ulama tadi disebut “pendapat yang ganjil” saja. Ini berbeza dengan khilaf.

Iskandar membiarkan masa sepi tanpa bicara sebentar, untuk memberi ruang kepada kata-katanya difahami secara maksimum oleh Hafiz.
ISKANDAR
Kemudian… adakah para ulama yang 2-3 orang itu pernah berimamkan wanita? Ada tak apa-apa bukti yang menunjukkan mereka memang pernah berimamkan wanita? Maksudnya, pernahkah ada contoh daripada mereka pada zaman itu? Isteri mereka ke.. anak murid mereka ke..?
HAFIZ
Taklah pula saya mengkaji sampai ke situ.
ISKANDAR
Ye lah. Kita bincang-bincang ni pun atas ilmu dalam dada je, bukan ada kitab kat depan pun. Kita cakap setakat apa yang tahu je lah. (Mereka sama-sama tersenyum)

Sunyi seketika. Nun di hujung jalan kelihatan beberapa orang kanak-kanak bermain. Sesekali suara mereka kedengaran walaupun agak jauh juga kedudukan mereka. Mungkin dibawa angin lembut yang menampar-nampar di wajah. Begitulah suasana kampung Sungai Lilin pada lewat petang.
Baru sebentar tadi Dani anak kecil Pak Lah berbasikal melewati mereka. Cukup laju kayuhannya. Diikuti oleh kakaknya Mazlina yang berusia sebelas tahun.
HAFIZ
(Masih mahu menyambung bicara)
Ada pendapat mengatakan… serban ni bukanlah sunnah Nabi, tapi ia satu budaya Arab saja- yang tidak dituntut menirunya di tempat-tempat lain.
Macamlah naik unta. Takkanlah kerana Nabi pernah naik unta maka semua umat Islam disuruh naik unta juga walaupun di negara itu tidak ada unta. Tambahan pula pada zaman teknologi canggih ni.
ISKANDAR
Hmm… macama mana nak jawab ye…
Beginilah.
Apakah definisi serban?
HAFIZ
Nak kena buka Kamus Dewan le jawabnya!

Mereka tertawa lagi.
ISKANDAR
Baiklah. Apabila disebut serban saja, apa yang Hafiz bayangkan?
HAFIZ
Mmm… kain… dilipat ataupun dirapat-rapatkan… kemudian dililit di kepala.. dengan… “style’ yang macam-macamlah. Ada yang ada ekor, ada yang tak da… mmm… gitulah lebih kurang.

ISKANDAR
Okeyyyyyy… adakah kain yang dililit di kepala Syeikh Nazeem… kenal Syeikh Nazeem?
HAFIZ
Tahu. Dia orang besar tariqat, tariqat apa entah. Tapi tahu le.
ISKANDAR
OK. Adakah adakah kain putih yang dililit di kepala Syeikh Nazeem itu dipanggil serban?
HAFIZ
(Berasa pelik sedikit dengan soalan abangnya)
Iye.
ISKANDAR
Adakah kain cantik bercorak pelekat yang dipakai oleh orang-orang Darul Arqam dulu dipanggil serban?
HAFIZ
Ya.

ISKANDAR
Adakah kain hitam di kepala pejuang-pejuang Taliban itu serban?
HAFIZ
Ya. Serban.


ISKANDAR
Yang maulana-maulana Tabligh di India pakai tu?
HAFIZ
Saya tak pernah tengok maulana-maulana tu.


ISKANDAR
(Tertawa kecil)
He he he… ye lah… tapi kan banyak orang Islam India pakai serban…
HAFIZ
Ye ye… saya faham. Memang serbanlah tu. (Tersenyum)

ISKANDAR
Dalam bulan Ramadhan hari tu, dalam rancangan Jejak Rasul ke apa ke rancangan yang seumpama tu lah… ada dirakamkan imam-imam masjid di Negara China yang berserban putih dan panjang sampai ke pinggang ekornya. Adakah itu serban atau bukan?
HAFIZ
…iye… (Nada jawapannya mula nampak berhati-hati. Ini kerana dia dapat merasakan ada sesuatu yang sedang dikumpul oleh pertanyaan-pertanyaan abangnya)
ISKANDAR
Orang-orang Sikh yang jelas bukan Islam, ada memakai kain di kepala mereka. Adakah itu serban?
HAFIZ
Memang orang sebut serban juga.
ISKANDAR
Jadi, apa saja kain yang seumpama itu dan dipakai seumpama itu, sama ada dipakai oleh Syeikh Nazeem yang berketurunan Cyprus, dipakai oleh Uztaz Ashaari Arqam Rufaqa’ keturunan Melayu Malaysia, dipakai oleh Taliban berketurunan Afghanistan, dipakai oleh… sapa tadi… maulana-maulana Tabligh keturunan India, dan dipakai oleh imam-imam Negara China yang berketurunan China, termasuklah yang dipakai oleh kaum Sikh yang bukan beragama Islam… semua itu disebut serban.
Betul?

HAFIZ
(Merenung wajah abangnya, tanpa jawapan bersuara tetapi mengangguk-angguk)


ISKANDAR
Kesimpulannya, yang dinamakan serban itu bergantung kepada kain dan cara pakainya, bukan siapa pemakainya. Bukan bangsa pemakainya dan bukan juga agama pemakainya. Setuju?


HAFIZ
Hmm… bolehlah dikatakan begitu… (masih tidak begitu mengiyakan kesimpulan abangnya)

bersambung...

Tulisan-tulisan di laman ini adalah hak milik Allah SWT dengan berperantaraan Alexanderwathern. Maklumat berkenaan HALAL DIPINDAHKAN ke mana-mana dengan SYARAT hendaklah disertakan sama alamat laman ini sebagai rujukan dan tidak digunakan untuk tujuan komersil.



Cerama: SERBAN ABANG (bah. 3)


ISKANDAR

Pada zaman Nabi dan para sahabat, ada orang Yaman di selatan Semenanjung Tanah Arab memakai kain sebegitu di kepala mereka. Adakah itu serban?


ISKANDAR
Pada zaman Nabi dan para sahabat, ada orang Yaman di selatan Semenanjung Tanah Arab memakai kain sebegitu di kepala mereka. Adakah itu serban?
HAFIZ
He em. (Mengiyakan)


ISKANDAR
Zaman itu, ada orang di Sudan dan Mesir dan di beberapa bahagian benua Afrika… memakai kain yang seumpama itu di kepala mereka. Adakah itu serban?


HAFIZ
(Mengangguk)
ISKANDAR
Zaman itu juga, ada orang di pedalaman Negara China dan di Mongolia memakai kain seumpama itu di kepala mereka…betul-betul serupa cara pakainya. Adakah itu serban?
HAFIZ
(Terdiam)


ISKANDAR
(Setelah beberapa lama…)
Macam mana Hafiz?


HAFIZ
Tapi… tak pernah orang kata itu serban…
ISKANDAR
Kenapa?
Adakah sebab kain itu dipakai oleh orang bukan Arab maka ia tak boleh dipanggil serban? Padahal bentuk kain dan cara pakainya sama saja!
Orang Sudan bukan bangsa Arab, mereka bangsa Afrika tapi kenapa kita iktiraf mereka pakai serban?
Lagipun, cuba ingat balik. Kan ke tadi kita dah ada satu keputusan kecil.. mengatakan… yang dinamakan serban itu bergantung kepada kain dan cara pakainya, bukan siapa pemakainya, bangsa mana yang memakainya, agama apa yang memakainya…? Bahkan orang-orang nomad di China, Mongolia dan Uzbekistan telah berserban sebelum kelahiran Nabi Muhammad lagi!


HAFIZ
(Masih tidak menjawab apa-apa tapi tersenyum lebar, agak lama juga senyumnya)

ISKANDAR
(Merasakan yang adiknya tidak akan memberikan apa-apa jawapan, Iskandar meneruskan aliran maklumatnya)
Seorang pengembara terkenal zaman dulu… abang dah lupa siapa, tapi catatannya memang jadi sumber sejarah. Sewaktu dia singgah di Kepulauan Melayu, dia menulis… bahawa orang-orang Melayu yang ditemuinya kebanyakannya berkulit gelap dan “membungkus kepala mereka”.
Orang-orang India pun sama. Sebelum kedatangan Islam lagi… telah ada masyarakat yang berserban.
Jadi… serban bukanlah budaya Arab sebagaimana yang dilaung-laungkan oleh musuh-musuh Islam dari Barat. Mereka inilah yang mula-mula cuba mewujudkan satu hukum universal yang mengatakan… apa saja yang dibawa oleh Muhammad adalah khusus untuk bangsa Arab... agamanya, budayanya, peraturannya… Mereka mempopularkan sebutan “Budaya Arab” dan menenggelamkan sebutan “Budaya Islam”. Mereka mahu dunia terima hakikat bahawa tidak ada sebarang budaya Islam, yang ada hanyalah budaya Arab. Panjanglah kalau nak dibincangkan bab ni.


HAFIZ
Ye lah, saya faham.

Mereka tiba di halaman rumah. Oleh kerana senja masih jauh, mereka menuju ke pokok ceri di penjuru kanan halaman. Ada pangkin tempat untuk mereka melabuhkan punggung.

bersambung ...

Cerama: SERBAN ABANG (bah. 4)

Mereka tiba di halaman rumah. Oleh kerana senja masih jauh, mereka menuju ke pokok ceri di penjuru kanan halaman. Ada pangkin tempat untuk mereka melabuhkan punggung.
Setelah duduk, Hafiz mendongak ke atas. Dilihatnya seekor burung kecil berwarna kuning sedang melompat-lompat dari dahan ke dahan. Ketika itu juga dia terpandang sesuatu meluncur ke bawah- ke arah Iskandar. Kena saja tubuh Iskandar, terus tubuh Iskandar terlatah. Sempat sikunya menyinggah ke bahu Hafiz. Terjatuh Hafiz ke tanah.
Rupa-rupanya tahi burung, kena betul-betul atas bahu Iskandar. Apabila pendekar Terlak disentuh, bukan main sensitif lagi- terus pukulannya mencari sasaran. Nasib engkaulah Hafiz.
HAFIZ
Allahhh… sengal giler woi! (Mengaduh tapi masih mampu tersenyum)

ISKANDAR
Ha ha ha! Sorry sorry! Allahhh… tak kan Hafiz tak tau abang ni, bukan boleh tercuit sikit! (Diusapnya bahu Hafiz)
HAFIZ
Orang pun belajar silat jugak, tapi tak le teruk macam abang ni. Lipas main kat kaki “time” tengah tidur pun habis dinding papan tercabut kena tendang.
ISKANDAR
Ha ha ha. Biasalah tu.

PAK SAID
(Melaung dari tepi rumah)
Kenapa tu?
HAFIZ
Tak ada apa ayah, “accident” sikit!

Mereka membetulkan duduk di pangkin. Iskandar mengelap sisa-sisa tahi burung di bahunya.

ISKANDAR
Huh, tak puas hati ni! Masuk rumah nanti mandi lain! (Dilapnya sambil lewa saja)

HAFIZ
Abang, pasal serban tadi… setahu saya, semua hadis-hadis tentang serban adalah palsu ataupun dhaif…tak boleh nak dibuat hujah.
ISKANDAR
Hadis-hadis yang jelas palsu, memang kita tolak. Tapi… nak ada kajian jugak. Adakah majoriti ulama hadis menghukumnya palsu, ataupun… hanya seorang dua saja yang kata palsu sedangkan tujuh lapan orang lagi kata tak palsu?
Sekarang ni… banyak orang yang baca satu dua buku tentang hadis, contohnya hadis-hadis yang dinilai oleh al Albani. Lepas tu, kalau Albani mendapati sesuatu hadis itu palsu, maka si pembaca tadi pun seumur hidupnya menghukum hadith itu palsu. Padahal dia tidak mencaripun kalau-kalau ada ulama lain yang mengatakan hadis itu bukan palsu.
Kalau orang tanya kepada pembaca tadi, “Apa nilai hadis ini?”. Maka terus dijawabnya “palsu”, seolah-olah para ulama hadis bersepakat mengatakan hadis itu palsu. Padahal yang menghukumnya palsu adalah al Albani. Maka kalau kita nak jaga kesarjanaan dalam hal ehwal agama ini, sepatutnya… si pembaca tadi kalau berpeluang mestilah mengatakan , “Hadis ini palsu menurut al Albani dan siapa-siapa lagi. Menurut ulama lain-wallahualam.” Dengan cara ini, ilmu agama akan lebih terjaga.

Merenung mata Hafiz, lalu menyambung kata-katanya lagi
ISKANDAR
Pasal hadis dhaif pula… ia boleh dijadikan hujah dalam perkara-perkara yang bukan persoalan pokok dalam agama, asalkan tidak terlalu dhaif. Dan serban bukan persoalan pokok dalam agama Islam.

HAFIZ
Tapi, ada ulama hadis yang menolak penggunaan hadis-hadis dhaif sebagai hujah, walau dalam bab apa pun!

ISKANDAR
Dalam kes ini, kita berbalik kepada persoalan “khilaf” yang kita bincang mula-mula tadi. Kalau dah khilaf, maka pihak-pihak yang bertentangan pendapat kena saling meraikan pendapat lawannya. Kalau dia mengatakan hanya pendapat dia yang betul, maka orang ini tidaklah layak menjadi ulama kerana dia tidak faham adab-adab berkhilaf. Ini kerana…barisan ulama yang mengharuskan penggunaan hadis dhaif bukan kecil-kecil anak, dan bukan sedikit bilangan mereka.

(Menarik nafas sebentar)
Berbalik kepada persoalan hadith-hadith tentang serban yang dhaif tadi. Kita tidak boleh menghukumnya dhaif terus-menerus kalau hanya berdasarkan kajian ulama tertentu. Boleh jadi ada ulama lain yang juga buat kajian dan mengangkat hadis-hadis tertentu ke tahap hasan ataupun sahih.

HAFIZ
Ya, saya faham. Samalah dengan penerangan abang sebelum ni.
ISKANDAR
Baik. Katakanlah semua hadis tentang serban ni dhaif belaka, tak ada yang hasan mahupun yang sahih. Tapi kita kena ingat, hadis-hadis dhaif tentang kelebihan serban ni banyak, bukan satu dua. Kalau kita kumpul semua hadis-hadis ni, kita akan dapati yang hadis-hadis ini mutawatir dari segi maknanya- iaitu memakai serban itu ada kebaikannya. Semua hadis ini seolah-olah bersepakat menganjurkan pemakaian serban!
Apabila ia mutawatir maknawi, maka kesepakatan maknanya itu boleh diangkat ke tahap hasan. Hadis hasan kan boleh dibuat hujah?...
Itupun kalau kesemeua hadis serban dhaif. Bagaimana kalau ada yang hasan?
HAFIZ
(Masih mendengar dan berfikir)
OK lah. Katakanlah betul memakai serban ini satu sunnah…
ISKANDAR
Maaf abang memotong! Bagi abang, yang pasti sunnah ialah membiasakan berserban, bukannya sentiasa berserban. Sebab Nabi Muhammad pun bukan sentiasa berserban. Okey… sambung.
HAFIZ
Jadi yang sentiasa nampak berserban tu bukan sunnah la ye?

ISKANDAR
Bukan begitu. Di sini abang membezakan antara yang pasti dengan yang kurang pasti. Membiasakan memakai serban itu pasti sunnah, manakala yang sentiasa berserban itu… abang tidak berani untuk mengatakan ia pasti sunnah. Harap Hafiz jelas perbezaannya. OK sambung.

HAFIZ
Ya. Kalaulah betul serban ni sunnah, kenapa agaknya ulama-ulama besar hari ini tidak berserban?
ISKANDAR
Bergantung kepada siapa yang kita iktiraf sebagai ulama. Bukankah banyak ulama sufi hari ini yang memakai serban? Bagaimana boleh kita kata ulama-ulama besar hari ini tidak berserban?
HAFIZ
Maksud saya… sebahagian ulama yang biasa kita lihat di media seperti Ramadhan al-Buti, Yusuf Qardhawi, al Albani… Hasan al Banna…

ISKANDAR
Adakah hanya kerana mereka tidak berserban, maka itu sudah cukup menjadi hujah mengatakan serban bukan sunnah?

HAFIZ
Oh, tentulah tidak. Bukan macam tu maksud saya.

bersambung ke bahagian ke-5 (terakhir)


Cerama: SERBAN ABANG (bah.5-terakhir)

ISKANDAR

Baiklah. Katakanlah pada hari akhirat nanti… Allah umumkan bahawa membiasakan memakai serban bukan sunnah.


ISKANDAR
Baiklah. Katakanlah pada hari akhirat nanti… Allah umumkan bahawa membiasakan memakai serban bukan sunnah.
Bagi orang yang tidak berserban- dia tidak akan rugi apa-apa.
Bagi orang yang berserban, dia akan rugi seumur hayatnya di dunia, iaitu lebih kurang 70 ke 80 tahun. Kerugiannya hanyalah masa selama 70 atau 80 tahun.
Betul?

HAFIZ
Tapi orang yang mengatakan serban sunnah, mereka akan didakwa juga kerana berdusta atas nama Rasulullah- yang bukan sunnah dikata sunnah.
ISKANDAR
Pendakwaan itu mustahil berlaku.
HAFIZ
Kenapa pulak?
ISKANDAR
Kerana kesunnahan serban merupakan perkara khilaf! Bagi para ulama yang berijtihad mengatakan serban sunnah, sekalaipun ijtihad mereka salah, mereka tetap mendapat satu kali ganjaran pahala. Ada tak hadis Nabi yang mengatakan begitu?
HAFIZ
Err… ya.

ISKANDAR
Jadi, bagaimana pulak mereka boleh didakwa?

HAFIZ
(Berdiam diri)
ISKANDAR
Seterusnya… katakanlah pada hari akhirat nanti, Allah umumkan bahawa membiasakan memakai serban ternyata satu sunnah!
Bagi orang-orang yang berserban, mereka akan untung selama-lamanya di akhirat. Ini kerana kalau kita pertahankan satu sunnah saja pun, pada masa orang lain tidak mahu mempertahankannya… kita akan mendapat ganjaran 100 pahala syahid.
Bagi orang yang tidak berserban, yang tidak menganggap ia satu sunnah… maka mereka akan kerugian selama-lamanya di akhirat, walaupun perkara ini tidaklah sampai membawa dosa.
Betul?
HAFIZ
Hmmm… (Berfikir)
ISKANDAR
Sekarang.. bandingkan kerugian yang bakal dialami oleh kedua-dua belah pihak.
Pihak yang berserban, iaitu yang menganggapnya sunnah, kalau tersalah… akan rugi masa mereka 80 tahun di dunia. Di akhirat tetap tidak rugi apa-apa.
Pihak yang tidak berserban, maksudnya yang tidak menganggap ia satu sunah, jika tersalah… akan kerugian selama-lamanya di akhirat.
Antara dua jenis kerugian ini, kerugian manakah yang lebih besar?

Mereka sama-sama tertawa.
HAFIZ
Aduhhh.. pening pulak memikirkannya. Nak kena panggil pakar ekonomi nih!

Mereka tertawa lagi.
ISKANDAR
Tambah lagi! Bagi seorang pelabor yang bijak, pelaboran manakah yang akan disertainya? Yang kalau tersalah… akan kerugian RM 80 jutakah, ataupun yang kalau tersalah… akan kerugian trillion-trillion RM?

Lagi-lagi tertawa.

HAFIZ
He he he! Ahh.. sudahlah! Jom masuk, dah dekat Maghrib! (Bangun sambil menepuk bahu abangnya).

HAFIZ
Allahhh….! (Tangannya terkena sisa tahi burung di bahu abangnya)

Mereka tertawa lagi.
PAK SAID
Oii… dah senja ni!
ISKANDAR
Ha ah, jap! Dah habis dah ni!

HAFIZ
(Sambil berjalan beriringan dengan abangnya)
Bang. Abang pernah baca tak artikel bertajuk “Katakan Tidak Kepada Wahabi”?

Iskandar berhenti, Hafiz pun turut berhenti.

ISKANDAR

Rasanya pernah. Dr. Asri yang tulis kan?
HAFIZ
Ya. Mufti Perlis yang baru tu.
ISKANDAR
Pernah, tapi baca sekali lalu saja la. Tak le pulak teliti betul-betul. Kenapa?
HAFIZ
Isi kandungan artikel tu bagus. Abang cuba le baca. Boleh kita bincang nanti.
ISKANDAR
Ooo… peminat Dr. Asri le ni ye? (Sambil berjalan semula, dituruti adiknya)
HAFIZ
Kalau apa yang dikatakannya tu betul, tentu tak salah jadi peminat. Ye tak?
ISKANDAR
Boleh, boleh! Hafiz ada artikel tu?
HAFIZ
Semua artikel Dr. Asri saya ada, dalam lap top.
ISKANDAR
Elok lah. Nanti tolong “copy” kat abang. Semua sekali.
HAFIZ
Bila nak muzakarah?
ISKANDAR
Amboih, sabar le kalau ye pun!

HAFIZ
He he he.

ISKANDAR
Abang tak biasa dengan pemikiran Dr. Asri ni. Nanti abang cuba “study”, pas tu kita sembang la.
Bila lagi cuti?
HAFIZ
Emmm… bulan tiga ni cuti pertegahan penggal. Insyaallah saya akan balik sini tiga empat hari.

ISKANDAR
Hah, elok le tu. Ada la masa lebih, dekat sebulan jugak. Kalau abang dah ada sikit pemahaman, baru “best” bincang.
HAFIZ
OK. Cuti nanti saya balik.

Iskandar masuk melalui pintu depan mendahuli adiknya.

Insyaallah bersambung ke cerama panjang (ataupun boleh juga disebut novrama) bertajuk “Wahabi Mengatakan Tidak”.
NANTIKAN!

Dipetik drpd laman BERSAMA ALEXANDERWARTERN
http://myalexanderwathern.freephpnuke.org/gate.html?name=News&new_topic=7

Monday, January 14, 2008

Kabel

Untuk berjaya dalam hidup kita sentiasa perlukan kabel yang kuat dan kukuh. Maka perlulah kita bina dan kita kukuhkan kabel tersebut walau dengan apa cara sekalipun. Kabel yang dimaksudkan adalah sptmana Firman Allah " Dan berpegang teguhlah dengan 'tali' Allah... "... Maka marilah bersama kita bina dan kukuhkan satu kabel yang mana tak dapat di tandingi oleh mana-mana kabel dalam dunia ni. Lebih kuat dari segala kabel yang terkuat kerana kabel ini menghubungkan hamba dangan Tuhannya. Apabila kabel ini telah terbina dan besar maka segala yang dihajatkan akan tercapai walau sebesar mana pun makhluk yang cuba menghalang.

Search Engine

Google
BM4